INI CERITA SAYA, MANA CERITA KAMU ?

INI CERITA SAYA, MANA CERITA KAMU?

Jumat, 05 Februari 2016

Coklat Untuk Sahabat


”Teng... teng... teng!” loncengan berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai. Shalsa masih saja duduk termenung sambil memandangi sekotak kado yang bersampul warna pink ditangannya.
”Woy! Bengong aja kamu, kesambet baru tau rasa” seru Melati sembari menepuk pundak Shalsa.
 ”Apaan sih kamu Mel, ngagetin aku aja. Kalau aku kena serangan jantung gimana coba ?” sahut Shalsa dengan nada kesal.
”Iya iya... maaf, abis kamu pagi-pagi udah diem aja! Kenapa? mikirin penggemar yang misterius itu yah?” celoteh Melati.
”Iya nih Mel, aku penasaran. Siapa sih dia?” gumam Shalsa yang merasa resah dan penasaran dengan kehadiran kado untuknya.
”Ya udahlah, enggak usah terlalu dipikirin, sahut Melati.
Tiba-tiba seorang guru masuk dalam kelas.
”Selamat pagi, anak-anak? Siapkan kertas dan masukan buku kalian, kita ulangan!”
”Apa! Ulangan? teriak Melati sambil kesal.
”Huuu... !” semua murid berteriak.
Ulangan harian berjalan dengan  lancar walaupun harus dengan cara mencontek.
Akhirnya bel istirahat berbunyi, Shalsa dan Melati segera beranjak ke kantin.
Mereka berduapun segera menuju ke kantin. Sampai akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Melati berencana mengajak Shalsa pergi ke flower shop untuk sekedar melihat-lihat bunga. Akan tetapi Shalsa menolak karena dia diberatkan dengan tumpukan tugas matematika dari Ibu Kartini yang belum dikerjakan.
Selang beberapa hari kemudian. Shalsa kembali mendapat bingkisan coklat yang bersampul berwarna pink dari penggemar misterius itu.
 Shalsa berusaha mencari tau, siapa sebenarnya  yang selalu memberikan coklat kepadanya
Seperti biasa, pagi mulai datang dan Shalsa bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah Shalsa bertemu dengan Nana.
”Shalsa....!” dari jauh terdengar suara Nana memanggil Shalsa
”Kenapa sih Na, habis dikejar kamtib kamu ?” canda Shalsa.
”Enak aja kamu! Ayo cepetan kita harus pergi ke tempat flower shop!” jawab Nana dengan nafas yang terengah-engah.
”Hah, pagi-pagi gini ke flower shop?” tanya Shalsa bingung.
”Iya, ayo cepetan Shalsa!” sahut Nana dengan menggandeng tangan Shalsa.
”Ada apa sih Na, kenapa kamu ajak aku ke flower shop?” tanya Shalsa dengan penasaran.
”Itu, Melati yang kemarin ngajak kamu di kantin.”
Belum selesai ngomong Shalsa langsung memotong omongan Nana.
”Owh... Melati? Emang dia kenapa?” celoteh Shalsa.
”Makanya diem dulu! Ini kita mau kesana melihat kondisi Melati.”
”Melati? Emangnya Melati kenapa?”
Melati ditabrak mobil, sekarang keadaannya parah!!” jawab Nana dengan panik.
”Apa... beneran kamu? Ya Allah, kok bisa sih? Kasihan dia...! ayo cepat kita kesana!
Sesampainya di flower shop, Shalsa berlari dengan menggandeng tangan Nana dan terlihat Melati tergeletak tak berdaya dan bersimpuhan darah. Kemudian dibawa masuk ke ambulance. Sementara itu, salah satu petugas ambulance menitipkan tas Melati kepada Shalsa dan Nana dan meminta mereka untuk ikut menemani Melati kerumah sakit.
”Na, gimana nih? Aku takut Melati kenapa-kenapa gumam Shalsa yang sedang gelisah menunggu Melati yang berada diruang UGD.
Karena terlalu panik, Shalsa mondar-mandir kesana kemari memikirkan kondisi Melati yang sedang didalam UGD. Tas Melati yang dia bawa tiba-tiba terjatuh dan semua barang yang ada didalamnya jatuh berserakan. Kemudian Shalsa mengambilnya dan berniat memasukkan kembali kedalam tas, ternyata ada coklat. Setelah diambilnya tertera nama ”For Shalsa” sama seperti coklat yang dikirim oleh penggemar rahasianya setiap seminggu sekali itu. Shalsa sangat terkejut. Dalam benak Shalsa dia masih tidak percaya.
”Apa itu Shalsa?” tanya Nana,
 ”Ini ......?”
”Itu apa?” tanya Nana dengan heran.
”Melati, dia ternyata penggemar misteriusku Na. Dia yang selama ini memberikan cokla untukku.”Shalsa menangis sambil melihat semua itu.
”Apa....! Jadi selama ini Melati yang memberikan itu semua untukmu.”
Mereka menjadi sangat panik.
Sekarang kondisinya sedang kritis. Shalsa merasa menjadi orang yang sangat bodoh didunia ini, karena ternyata sahabat terdekatnya yang slama ini yang memberi Shalsa coklat. Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang UGD.
”Teman Melati?” tanya dokter
”Iya dok, kita teman sekolahnya. Bagaimana keadaan Melati?” tanya Nana.
”Tenang Shalsa. Pasti Melati baik-baik aja.” memegang pundak Shalsa agar Shalsa merasa lebih tenang.
”Kalian yang sabar ya? Melati sudah kembali pada Yang Maha Kuasa. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Melati. Tapi, Tuhan berkehendak lain” jawab dokter dengan wajah sedih.
Mendengar kalimat itu, hati Shalsa merasa hancur, dia menangis dan berlari menuju ke ruang UGD.
”Melati!! Bangun Mel! Ini aku Shalsa.
Hati Shalsa hancur, tapi dia berusaha membangunkan Melati. Seakan tak percaya bahwa orang yang menyayanginya telah pergi jauh dan tak akan pernah kembali.
Nana merasa kasihan melihat Shalsa yang terus saja menangis, sembari memeluk Melati, dengan penuh rasa sedih Nana menenangkan Shalsa dan memeluk Shalsa
Shalsa selalu mendatangi makam Melati dan membawakan bunga mawar merah untuknya. Ternyata Melati selalu menutupi kejadian ini, Melati memberikan coklat kepada Shalsa karena Shalsa sangat suka dengan coklat. Shalsa belajar dari pengalaman hidupnya ini, bahwa sahabat selalu ada untuknya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar