”Teng... teng... teng!” loncengan berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai. Shalsa masih saja duduk termenung sambil memandangi sekotak kado yang bersampul warna pink ditangannya.
”Woy! Bengong aja kamu,
kesambet baru tau rasa” seru Melati sembari menepuk pundak Shalsa.
”Apaan sih kamu Mel, ngagetin aku aja. Kalau
aku kena serangan jantung gimana coba ?” sahut Shalsa dengan nada kesal.
”Iya iya... maaf, abis kamu
pagi-pagi udah diem aja! Kenapa? mikirin penggemar yang misterius itu yah?”
celoteh Melati.
”Iya nih Mel, aku penasaran.
Siapa sih dia?” gumam Shalsa yang merasa resah dan penasaran dengan kehadiran
kado untuknya.
”Ya udahlah, enggak usah
terlalu dipikirin, sahut Melati.
Tiba-tiba seorang guru masuk
dalam kelas.
”Selamat pagi, anak-anak?
Siapkan kertas dan masukan buku kalian, kita ulangan!”
”Apa! Ulangan? teriak Melati
sambil kesal.
”Huuu... !” semua murid
berteriak.
Ulangan harian berjalan dengan
lancar walaupun harus dengan cara
mencontek.
Akhirnya bel istirahat berbunyi,
Shalsa dan Melati segera beranjak ke kantin.
Mereka berduapun segera menuju
ke kantin. Sampai akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Melati berencana
mengajak Shalsa pergi ke flower shop untuk sekedar melihat-lihat bunga. Akan
tetapi Shalsa menolak karena dia diberatkan dengan tumpukan tugas matematika
dari Ibu Kartini yang belum dikerjakan.
Selang beberapa hari kemudian.
Shalsa kembali mendapat bingkisan coklat yang bersampul berwarna pink dari
penggemar misterius itu.
Shalsa berusaha mencari tau, siapa
sebenarnya yang selalu memberikan coklat
kepadanya
Seperti biasa, pagi mulai
datang dan Shalsa bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Sesampainya di
sekolah Shalsa bertemu dengan Nana.
”Shalsa....!” dari jauh
terdengar suara Nana memanggil Shalsa
”Kenapa sih Na, habis dikejar
kamtib kamu ?” canda Shalsa.
”Enak aja kamu! Ayo cepetan
kita harus pergi ke tempat flower shop!” jawab Nana dengan nafas yang
terengah-engah.
”Hah, pagi-pagi gini ke flower
shop?” tanya Shalsa bingung.
”Iya, ayo cepetan Shalsa!”
sahut Nana dengan menggandeng tangan Shalsa.
”Ada apa sih Na, kenapa kamu
ajak aku ke flower shop?” tanya Shalsa dengan penasaran.
”Itu, Melati yang kemarin
ngajak kamu di kantin.”
Belum selesai ngomong Shalsa langsung
memotong omongan Nana.
”Owh... Melati? Emang dia
kenapa?” celoteh Shalsa.
”Makanya diem dulu! Ini kita
mau kesana melihat kondisi Melati.”
”Melati? Emangnya Melati
kenapa?”
Melati ditabrak mobil,
sekarang keadaannya parah!!” jawab Nana dengan panik.
”Apa... beneran kamu? Ya
Allah, kok bisa sih? Kasihan dia...! ayo cepat kita kesana!
Sesampainya di flower shop,
Shalsa berlari dengan menggandeng tangan Nana dan terlihat Melati tergeletak
tak berdaya dan bersimpuhan darah. Kemudian dibawa masuk ke ambulance.
Sementara itu, salah satu petugas ambulance menitipkan tas Melati kepada Shalsa
dan Nana dan meminta mereka untuk ikut menemani Melati kerumah sakit.
”Na, gimana nih? Aku takut
Melati kenapa-kenapa gumam Shalsa yang sedang gelisah menunggu Melati yang
berada diruang UGD.
Karena terlalu panik, Shalsa
mondar-mandir kesana kemari memikirkan kondisi Melati yang sedang didalam UGD.
Tas Melati yang dia bawa tiba-tiba terjatuh dan semua barang yang ada
didalamnya jatuh berserakan. Kemudian Shalsa mengambilnya dan berniat
memasukkan kembali kedalam tas, ternyata ada coklat. Setelah diambilnya tertera
nama ”For Shalsa” sama seperti coklat yang dikirim oleh penggemar rahasianya
setiap seminggu sekali itu. Shalsa sangat terkejut. Dalam benak Shalsa dia
masih tidak percaya.
”Apa itu Shalsa?” tanya Nana,
”Ini ......?”
”Itu apa?” tanya Nana dengan
heran.
”Melati, dia ternyata
penggemar misteriusku Na. Dia yang selama ini memberikan cokla untukku.”Shalsa
menangis sambil melihat semua itu.
”Apa....! Jadi selama ini
Melati yang memberikan itu semua untukmu.”
Mereka menjadi sangat panik.
Sekarang kondisinya sedang
kritis. Shalsa merasa menjadi orang yang sangat bodoh didunia ini, karena
ternyata sahabat terdekatnya yang slama ini yang memberi Shalsa coklat.
Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang UGD.
”Teman Melati?” tanya dokter
”Iya dok, kita teman sekolahnya.
Bagaimana keadaan Melati?” tanya Nana.
”Tenang Shalsa. Pasti Melati
baik-baik aja.” memegang pundak Shalsa agar Shalsa merasa lebih tenang.
”Kalian yang sabar ya? Melati
sudah kembali pada Yang Maha Kuasa. Kami sudah berusaha
semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Melati. Tapi, Tuhan berkehendak lain”
jawab dokter dengan wajah sedih.
Mendengar kalimat itu, hati
Shalsa merasa hancur, dia menangis dan berlari menuju ke ruang UGD.
”Melati!! Bangun Mel! Ini aku
Shalsa.
Hati Shalsa hancur, tapi dia
berusaha membangunkan Melati. Seakan tak percaya bahwa orang yang menyayanginya
telah pergi jauh dan tak akan pernah kembali.
Nana merasa kasihan melihat Shalsa yang terus saja
menangis, sembari memeluk Melati, dengan penuh rasa sedih Nana menenangkan
Shalsa dan memeluk Shalsa
Shalsa selalu mendatangi makam
Melati dan membawakan bunga mawar merah untuknya. Ternyata Melati selalu
menutupi kejadian ini, Melati memberikan coklat kepada Shalsa karena Shalsa
sangat suka dengan coklat. Shalsa belajar dari pengalaman hidupnya ini, bahwa
sahabat selalu ada untuknya.
